Kamis, 15 Agustus 2013

Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Bangkalan



Green House di desa Langkap, Burneh

Bangkalan. Program pencepatan penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat yang Beragam, Bergizi dan Berimbang  merupakan salah satu program pembangunan sektor pertanian tanaman pangan yang kini  mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Untuk mendukung terwujudnya capaian program tersebut, maka pada  tahun 2013 ini, telah meluncurkan program pembangunan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di beberapa wilayah pedesaan maupun perkotaan secara simultan. Program  baru ini sebenarnya merupakan peningkatan dari program Kementerian  Pertanian yang telah laksanakan sejak tahun 2009, yaitu Gerakan  Pencepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) berbasis sumber daya Lokal dengan target sasaran pencapaian pada tahap I yaitu skor PPH sebesar 88,1 pada tahun 2011 dan Tahap II yaitu skor PPH sebesar 95 pada tahun 2015.
Untuk mengakselerasi pencapaian program baru itu, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bangkalan, pada tahun 1013 ini,  dengan anggaran yang telah di alokasikan secara simultan baik berasal dari APBD, APBD Propinsi maupun anggaran APBN Tahun Anggaran 2013, telah melakukan berbagai upaya strategis, mulai dari identifikasi potensi geografis, sosialisas, penguatan kelembagaan dan koordinasi pada tingkat pelaksana, baik dari Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK desa sampai pada tingkat rumah tangga (RT), intensifikasi pemanfaatan pekarangan rumah, pembuatan Kebun Bibit Desa (KBD) di beberapa wilayah pedesaan maupun wilayah perkotaan dengan melibatkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai pendamping utama.
                          

Pembibitan beberapa jenis tanaman komoditas pilihan di Kebun Bibit Desa (KBD), desa Martajasah, Bangkalan

Pada dasarnya, Konsep Rumah Pangan Lestari (RPL) merupakan upaya untuk mengoptimalisasikan pemanfaatan pekarangan. RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Sedangkan pengusahaan RPL yang dikembangkan dalam skala yang luas, berbasis dusun, desa atau wilayah lainnya disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), termasuk didalamnya upaya intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan-jalan desa, lahan terbuka hijau (RTH) maupun dilingkungan yang merupakan fasilitas publik (sekolah, kantor, balai desa dan lainnya) serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil. Adapun Prinsip dasar KRPL adalah : (1) Pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan. (2) Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. (3) Konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan). (4)Menjaga kelestarian  nelalui kebun bibit desa menuju (5) Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
                          
Budidaya tanaman sawi oleh Kelompok Wanita Tani "Anggrek" desa Kampak, Kec. Geger di  salah satu pekarangan rumah penduduk


Pemilihan komoditas yang akan dikembangkan pada Strata 1, disesuaikan dengan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, berbasis sumber pangan lokal serta bernilai ekonomi. Komoditas tersebut antara lain sayuran, tanaman rempah dan buah-buahan (pepaya, belimbing, jambu biji, srikaya, sirsak dan buah lainnya, disesuaikan dengan lokasi), dan pangan lokal (ubijalar, ubikayu, ganyong, garut, talas, suweg, ubi kelapa, gembil labu kuning dan pangan lokal lainnya). Sedangkan pada Strata 2 dan 3 dapat ditambahkan budidaya ikan dalam kolam dan ternak unggas atau ternak lainnya. Tiap kawasan menentukan komoditas unggulan yang dapat dikembangkan ssecara komersial.
                             


    Salah satu jenis komoditas yang ditanam  oleh KWT "Anggrek" desa Kampak
                            

Tanaman gambas, komoditas yang dibudidayakan dalam Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari di desa Kampak

Untuk melestarikan KRPL, para petugas lapangan setempat dan ketua kelompok agar sejak awal dilibatkan secara aktif mulai perencanaan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Diharapkan keterlibatan ini akan memudahkan proses keberlanjutan dan kemandiriannya. Beberapa faktor lain yang mendukung keberlanjutan KRPL adalah ketersediaan benih atau bibit, penanganan pasca panen dan pengolahan dan pasar bagi produk yang dihasilkan. Untuk itu diperlukan penumbuhan dan penguatan KBD, pengolahan hasil dan marketing. Untuk mewujudkan kemandirian kawasan, maka dilakukan pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk sistem integrasi tanaman - ternak secara simultan dan bersifat sinergis.  Untuk memenuhi Pola Pangan Harapan yang sudah dicanangkan, maka diperlukan model diversifikasi yang dapat memenuhi kebutuhan kelompok pangan (padi-padian, aneka umbi, pangan hewani, minyak dan lemak, biji atau biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayur dan buah dan lainnya) bagi keluarga. Model ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pendapatan dan kesejahteraan keluarga.      
                          
         Salah satu lokasi lahan pekarangan yang dimanfaatkan untuk menanam  jenis tanaman
         Kacang Panjang

Minggu, 21 Juli 2013

Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Bangkalan

               Kebun Bibit Desa (KBD) yang dikelola KWT "Kemuning", desa Martajasah, Bangkalan

Bangkalan. Program pencepatan penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat yang Beragam, Bergizi dan Berimbang  merupakan salah satu program pembangunan sektor pertanian tanaman pangan yang kini  mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Untuk mendukung terwujudnya capaian program tersebut, maka pada  tahun 2013 ini, telah meluncurkan program pembangunan intensifikasi tanah pekarangan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di beberapa wilayah pedesaan maupun perkotaan secara simultan. Program  baru ini sebenarnya merupakan peningkatan dari program Kementerian  Pertanian yang telah laksanakan sejak tahun 2009, yaitu Gerakan  Pencepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) berbasis sumber daya Lokal dengan target sasaran pencapaian pada tahap I yaitu skor PPH sebesar 88,1 pada tahun 2011 dan Tahap II yaitu skor PPH sebesar 95 pada tahun 2015.

Untuk mengakselerasi pencapaian program baru itu, melalui instansi Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bangkalan, pada tahun 1013 ini,  dengan anggaran yang telah di alokasikan secara simultan baik berasal dari APBD, APBD Propinsi maupun anggaran APBN Tahun Anggaran 2013, telah melakukan berbagai upaya strategis, mulai dari proses identifikasi potensi geografis, sosialisas, penguatan kelembagaan maupun langkah koordinasi pada tingkat pelaksana, baik di tingkat Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK desa sampai pada tingkat rumah tangga (RT). Kegiatan utama adalah melakukan intensifikasi pemanfaatan pekarangan rumah, pembuatan Kebun Bibit Desa (KBD), kolam ikan maupun kandang unggas di beberapa wilayah pedesaan maupun wilayah perkotaan dengan melibatkan petugas  Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di masing-masing wilayah yang melaksanakan KRPL sebagai pendamping utamanya.

              Pemanfaatan tanah pekarangan salah seorang warga desa Langkap, Burneh, Bangkalan

Pada dasarnya, Konsep Rumah Pangan Lestari (RPL) merupakan upaya untuk mengoptimalisasikan pemanfaatan pekarangan. RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Sedangkan pengusahaan RPL yang dikembangkan dalam skala yang luas, berbasis dusun, desa atau wilayah lainnya disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), termasuk didalamnya upaya intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan-jalan desa, lahan terbuka hijau (RTH) maupun dilingkungan yang merupakan fasilitas publik (sekolah, kantor, balai desa dan lainnya) serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil. Adapun Prinsip dasar KRPL adalah : (1) Pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan. (2) Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. (3) Konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan). (4)Menjaga kelestarian  nelalui kebun bibit desa menuju (5) Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

       Hasil budidaya Holtikultura dari Kawasan Rumah Pangan Lestari yang dikelola KWT "Anggrek", 
       desa Kampak, Geger, Bangkalan 

Pemilihan komoditas yang akan dikembangkan pada Strata 1, disesuaikan dengan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, berbasis sumber pangan lokal serta bernilai ekonomi. Komoditas tersebut antara lain sayuran, tanaman rempah dan buah-buahan (pepaya, belimbing, jambu biji, srikaya, sirsak dan buah lainnya, disesuaikan dengan lokasi), dan pangan lokal (ubijalar, ubikayu, ganyong, garut, talas, suweg, ubi kelapa, gembil labu kuning dan pangan lokal lainnya). Sedangkan pada Strata 2 dan 3 dapat ditambahkan budidaya ikan dalam kolam dan ternak unggas atau ternak lainnya. Tiap kawasan menentukan komoditas unggulan yang dapat dikembangkan ssecara komersial.
         Salah satu komoditas tanaman yang dipilih budidatakan oleh Kelompok Wanita Tani "Anggrek", 
         desa Kampak, Geger, Bangkalan

Jumat, 26 Oktober 2012

Kirab Budaya Bangkalan Tahun 2012


Bangkalan - Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Pemkab Bangkalan, pada tahun 2012 ini, menggelar beberapa kegiatan penting untuk memeriahkan Hari Jadi Bangkalan ke 481 Tahun. Selain Pemilihan Kacong Jebbing, Upacara maupun Pekan Raya Bangkalan, Pemkab Bangkalan juga menggelar acara yang cukup monumental yaitu Kirab Budaya. Selain menjadi media hiburan bagi warga Bangkalan, kirab budaya yang pesertanya berasal dari 18 kecamatan se Kabupaten Bangkalan ini juga bertujuan utama untuk mengekspose dan mengapresiasi kembali kekayaan nilai-nilai budaya daerah sekaligus melestarikannya. Beberapa atraksi menarik ditampilkan dalam moment ini mulai dari karawitan (gamelan), upacara adat istiadat pengantinan, rokat tasek dan rokat bumi, peragaan teatrikal seni bela diri silat, parade pakaian batik sampai penampilan beberapa kesenian musik tradisional. Kirab yang dilepas oleh Bupati Bangkalan, R.KH. Fuad Amin Spd. di timur Alun-alun Bangkalan ini mendapatkan antusiasme yang cukup tinggi dari warga kota Bangkalan dan sekitarnya.

Upacara adat istiadat pengantin dari Socah


 Upacara adat istiadat pengantin dari Kamal


 Tari Pecut 


 Sekuel tari remoh


  Can Macanan


 Musik Ul Daul dari Blega

Selasa, 02 Oktober 2012

Museum Cakraningrat Bangkalan

Gedung Museum Cakraningrat Bangkalan

Bangkalan -  Gedung Museum yang berada di jalan Soekarno-Hatta dan diberi nama " Cakraningrat " ini telah diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo, pada tanggal 13 Maret 2008. Terletak bersebelahan dengan kantor DPRD Bangkalan, gedung yang dibangun oleh Pemda Bangkalan ini.merupakan bagian penting dari kantor Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariiwisata Kabupaten Bangkalan. Sebelum menempati gedung baru, museum yang banyak mengkoleksi barang-barang peninggalan sejarah dan benda-benda kuno ini berada di kompleks Rumah Dinas Bupati Bangkalan (sebelah timur alun-alun Bangkalan). Karena dinilai kurang sesuai dengan tuntutan sebagai fasilitas publik maupun kurang memiliki nilai informatif bagi masyarakat umum, maka atas iniiatif Bupati Bangkalan, R.KH Fuad Amin Spd, memindahkan museum ini ke tempat yang terbuka sebagaimana sekarang ini. Agar museum ini mampu merefleksikan dan menanamkan nilai-nilai monumental sejarah Bangkalan bagi siapa saja, terutama bagi generasi muda, maka atas inisiatif  beliau pula menamai museum ini dengan nama " Cakraningrat ", sebuah gelar bagi raja-raja yang memerintah Bangkalan pada tahun 1648 - 1918.

Asal Usul Berdirinya Museum

Didorong oleh pemikiran dan tanggung jawab untuk melestarikan benda-benda yang bernlai sejarah, warisan nenek moyang, maka atas saran beberapa sesepuh Bangkalan seperti R.A. Roeslan Tjakraningrat, R.A. Salehadiningrat  Surjowinoto, R.P. Machfud Sosroadiputro, pada tahun 1950-1954 dilakukanlah inisiatif oleh pemerintah daerah dan pemerhati budaya, untuk pengumpulan benda-benda maupun dokumen-dokumen milik Keraton Bangkalan yang tersebar dan berada ditangan orang, untuk kemudian dihimpun dan dirawat. Benda-benda dan dokumen-dokumen yang terkumpul tersebut disimpan di sebuah gedung yang berada di kompleks Pemakaman Raja-Raja Bangkalan " Pesarean Aer Mata " (Buduran, Arosbaya). Untuk mengurus koleksi benda-benda bersejarah itu, pada tahun itu pula dibentuk Yayasan Kona. Untuk lebih menjamin pengawasan atas kelestariannya, maka atas inisiatif H.J. Soedjaki, Bupati Bangkalan pada saat itu (1971-1976), bersama Yayasan Kona, benda--benda itu kemudian pada tahun 1975 dipindahkan ke sebuah gedung di kompleks Pendopo Agung Bangkalan  (sebelah timur alun-alun Bangkalan). Mulai sejak itu pemeliharan dan perawatan benda-benda tersebut secara resmi menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dan pada tahun 1979 secara resmi ditetapkan sebagai sebuah museum dengan nama " Museum Daerah Tk. II Bangkalan ".

Guna mewujudkan rasa tanggung jawab yang besar dari  Pemerintah Daerah maupun untuk tujuan menanamkan serta meningkatkan apresisasi yang tinggi masyarakat umum terhadap benda-benda yang bernilai sejarah itu, maka pada tahun 2008 atas inisiatif  Bupati Bangkalan, R.KH. Fuad Amin Spd, Pemerintah Daerah kemudian memindahkan museum ke gedung baru yang representatif, sebagaimana saat ini. Banyak benda pusaka dan benda kuno yang bersejarah disimpan dan dipamerkan di tempat ini antara lain koleksi senjata tombak, naskah tulis dan daun lontar, gamelan, alat musik dan berbagai peralatan lainnya.

 Meriam Peluru Lontar


 "Tabbuwan Selajing" 


  Judang 


Kelbung (penyaring air batu) dan Tempayan dari Tanah liat


Lumpang batu dan lumpang kayu serta pepes


Alat musik tradisonal 'tuk tuk'



Gamelan


 Benda-benda pusaka keraton


Peralatan masak dari tanah liat/lempung


 PIR (sarana tranportasi umum)


Alat musik tradisonal

Barang pecah belah keramik

Kamis, 22 Maret 2012

Studi Banding ke Bangkalan

 
                                  Penerimaan peserta studi banding BKPP Kalimantan Timur  di
                                  aula Badan Ketahanan Pangan Bangkalan

Bangkalan  -  Sebanyak 100 orang melakukan studi banding ke desa Batubela, Kecamatan Geger, Bangkalan (7/3). Sebelum ke lapangan, peserta yang terdiri dari para pejabat Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten/Kota se-Kalimantan Timur tersebut diterima langsung oleh Asisten Bidang Administrasi Pembangunan Setda Bangkalan, Tamar Jaya di Aula Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bangkalan, didampingi oleh Kepala BKP3 Kabupaten Bangkalan, Ishak Hanafia maupun Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangkalan, Puguh Santoso. Dipilihnya desa Batubela sebagai lokasi studi banding yang bertajuk ketahanan pangan ini atas dasar penilaian bahwa desa ini telah mampu menjadi salah satu desa yang memiliki berpredikat sebagai 'desa mandiri pangan'. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kemampuan masyarakatnya yang dimotori oleh Kelompok Tani (poktan) dalam menjamin stok ketersediaan pangan yang didukung oleh tingginya partisipasi peran LDPM setempat.
       
        Dalam menyambut kunjungan tamu tersebut, digelar pula berbagai macam produk unggulan Bangkalan, baik produk unggulan olahan pangan dalam bentuk produk minuman dan makanan hasil kelompok-kelompok tani binaan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksanaan Penyuluhan Bangkalan maupun produk hasil kerajinan home industri seperti batik dan lain-lain. Gelar produk unggulan daerah ini ternyata mendapatkan perhatian besar dari para tamu yang. Sebagian besar mereka memborongnya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

 Pemberian Plakat Lambang Daerah 


 Gelar Produk Unggulan Daerah


 Antusiasme Tamu Belanja Produk Unggulan

Aneka produk pangan olahan yang dipamerkan


Kamis, 27 Oktober 2011

Kacong Jebbing Bangkalan

 Pasangan Kacong Jebbing Bangkalan
        
        Malam grand final pemilihan Kacong Jebbing Bangkalan tahun 2011 yang digelar pada sabtu malam kemarin (22/10) di GOR Sultan Abdul Kadirun, terbilang sangat istimewa bila dibandingkan penyelenggaraan tahun - tahun yang lalu. Selain dihadiri langsung oleh Bupati Bangkalan, R.KH. Fuad Amin Spd, acara yang bertujuan untuk memilih calon duta wisata Kabupaten Bangkalan ini juga menghadirkan pasangan artis populer, Anang dan Ashanti. Pemilihan Kacong Jebbing Bangkalan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan penting yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Bangkalan yang ke 480. 

        Selain pemilihan duta wisata Kacong Jebbing, kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Pemkab Bangkalan dalam rangka Ulang Tahun Bangkalan adalah Pekan Raya Bangkalan (PRB), digelar mulai tanggal 24-29 Oktober 2011. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara pameran yang ditempatkan di alun-alun selatan Bangkalan ini bertujuan  memvisualisasikan kemajuan pembangunan yang dicapai di berbagai bidang pembangunan selama ini, khususnya selama dua periode perjalanan kepemimpinan Bupati Bangkalan, R.KH. Fuad Amin Spd.,  

 
                                    Bupati Bangkalan didampingi Kepala BKP3 di stand pameran 
                                    BKP3 Bangkalan, setelah acara pembukaan pameran (24/10)

        Dalam Pekan Raya Bangkalan yang diikuti oleh seluruh instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangkalan dan dunia usaha swasta tersebut, diperlihatkan kemajuan yang dicapai perekonomian daerah, khususnya di sektor perekonomian rakyat yang berbasis Usaha Kecil Menengah dan Mikro maupun kelompok tani dengan memamerkan berbagai produk unggulan daerah mulai dari hasil kerajinan tangan maupun batik tulis yang berasal dari para pengrajin batik Tanjung Bumi sampai pada produk pangan olahan  dari kelompok tani. diantaranya ikan kering tawar dari ikan bulu ayam ataupun dari ikan layur, abon ikan tuna, kripik nangka, maupun kurma salak dan dodol salak.

                                   Abon ikan tuna, ikan kering tawar ikan bulu ayam dan ikan layur

 Kurma salak dan Dodol salak Martajasah

 Petis ikan pindang, petis ru juruk dan terasi udang

Jumat, 16 September 2011

Produk Unggulan Olahan Pangan Bangkalan

       Salah satu masterplan pengembangan kawasan Kabupaten Bangkalan yang saat ini sedang direview dan disusun kembali adalah pengembangan kawasan Agropolitan di tiga wilayah, meliputi Kecamatan Socah, Kecamatan Burneh dan Kecamatan Bangkalan (Soburbang). Review ini dilakukan berkait erat dengan telah berakhirnya masa lima tahun Dokumen Rencana Induk Kawasan Agropolitan Kabupaten Bangkalan (2006-2011).  Konsep pengembangan wilayah yang berbasis pada ekspo hasil pertanian dan penguatan  konsep pengembangan kawasan wisata ini masih banyak memerlukan support dari Pemda maupun dunia swasta, dunia usaha serta masyarakat luas. Selama ini pengembangan agropolitan di kawasan segi tiga emas tersebut terkesan berjalan sangat lamban, kendala adalah terutama dalam hal penyediaan lahan dalam pembangunan sentra - sentra penjualan produk unggulan hasil pertanian, lambatnya program akselerasi pemberdayaan para petani maupun minimnya inovasi tekonologi pengolahan hasil pertanian.

      Kalau diidentifikasi lebih jauh, sebenarnya terdapat banyak potensi daerah yang bisa diangkat ke permukaan untuk mendukung percepatan kawasan agropolitan. Dengan adanya kegiatan seleksi inovasi teknologi yang dilakukan Pemkab Bangkalan, yang dilakukan dalam rangka keikurtsertaan dalam seleksi inovasi teknologi tingkat propvinsi Jawa Timur, diketahui terdapat beberapa produk olahan pangan yang berasal dari kelompok tani binaan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Bangkalan, ternyata memiliki daya saing yang tinggi. Salah satu produk olahan pangan yang berasal dari kelompok tani desa Kramat, kecamatan Bangkalan adalah aneka produk hasil olahan buah salak. dalam bentuk kemasan makanan dan minuman ringan. Diantara produk hasil olahan buah salak ini adalak 'salak kurma' dan minuman segar dari kulit salak.

                                                                   Salak Kurma Bangkalan


                                                              Dudul Salak Kramat, Bangkalan

                                                       Aneka minuman segar dari buah salak

        Produk yang berbahan baku buah salak ini merupakan produk pangan pangan olahan yang sangat baru, hasil kerja kelompok tani ‘Ambudi Makmur II’  desa Kramat, Bangkalan. Awalnya, kelompok tani yang dipelopori ibu Saniyah ini melihat buah salak hasil kebunnya, tidak seluruhnya bisa laku dijual ke konsumen. Kenyataannya yang dihadapi adalah disamping ada salak yang bisa disantap langsung, salak yang kemudian disebut sebagai salak kualitas super, terdapat pula banyak salak yang kurang dan tidak disukai orang karena rasanya ‘sepet’ dan tidak manis, karenanya, salak ini tidak memiliki nilai jual. Memperhatian keadaan ini. tentu sangat memprihatinkan. bu Saniyah kemudian mencoba untuk mengolahnya dan mengkoversi jenis salak kw2 dan kw3 ini agar menjadi sesuatu yang berbeda dari aslinya, tujuannya adalah untuk mendongkrak nilai konsumsi dan nilai jual salak ini, setara salak super. Kini, produk olahan salak buah tangan bu Saniyah mulai dikenal dan dilirik konsumen tidak saja dari dalam daerah, akan tetapi juga dari luar daerah dan dijual di beberapa sentra oleh oleh di Bangkalan.

        Selain olahan pangan dari buah salak, banyak aneka macam produk olahan pangan lain yang kini diproduksi secara home industry oleh perorangan maupun oleh kelompok tani (poktan) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang tersebar di Kabupaten Bangkalan. Meskipun kapasitas produksinya masih sangat terbatas dan diolah secara konvensional, namun aneka produk olahan pangan ini mulai  dilepas di pasar. Mutu dan kemasanpun tidak kalah dengan produk olahan pangan modern yang bermerk. Produk olahan pangan Bangkalan memiliki spesifikasi khusus, yakni berbasis pada sumber daya alam lokal, hasil pertanian maupun hasil perkebunan. Seiring dengan makin meningkatnya pelaksanaan program penganekaragaman pangan pada lahan pekarangan pada tingkat rumah tangga, telah mendorong pula motivasi mayarakat-petani untuk mengembangkan diversifikasi olahan pangan. Keadaan ini tentu juga dapat mendorong bagi tumbuh kembangnya usaha kecil di mayarakat.

' Noga ' dari  Tanah Merah


 Cookies dari  Burneh


 ' Petolah Goreng ' dari  Kwanyar


Rempeyek kulit dan Bola- Bola Blinjo dari Burneh


 ' Karang Mas' dari  Kamal


Aneka kripik dan kacang atom dari  Kokop


Kacang mente dari  Kokop

 Ting ting Karak dari Sepulu